Seperti biasa , aku duduk sendirian sambil mendengarkan musik dan melihat tulisan berlalu lalang . Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai
menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana,
berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan
lagi.Ini bukan yang pertama kalinya aku tak merasakan hangatnya perhatianmu , yaa akhir akhir ini kamu berbeda . Entah apa sebabnya .
Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang kurasakan, juga tak memiliki
rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan
itu, agar kita tak lagi saling menganggu. Bukankah dengan berjauhan
seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti? Seakan-akan aku tak pernah
peduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak miliki rasa
perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa
kita.Dulu , Kau datang kedalam hari-hariku dengan sendirinya tanpa kupinta, menyapa dan membawa ku pelan-pelan masuk kedalam lingkaran merahjambu mu. Aku mulai mencintaimu, mulai membiasakan diri akan kehadiranmu, dan mulai percaya yang kau rasakan juga adalah cinta. Aku tak menyangka jika orang yang begitu halus membisikan cinta, begitu manis mengucapkan rindu, dan begitu mudah berkata sayang adalah orang yang seharusnya tidak kupercayai dari awal. Kamu tak tahu betapa aku begitu tergoda akan kehadiranmu?.Sungguh bodoh! Mengapa begitu mudah menjatuhkan air mata untuk kamu yang tak pernah menangisi ku? Mengapa rindu begitu sialan karena menjadikan mu sosok yang paling sering kusebut dalam do'a. Kau tahu betapa sulitnya melupakan perasaan yang sudah melekat, betapa tidak mudahnya menghilangkan kamu dari hati dan otakku. Cinta begitu mudah datang tapi entah mengapa membenci begitu susah.
Aku telah tenggelam, sementara kamu masih berada dipesisir pantai hanya bisa melambaikan tangan dan menertawakan kesesakanku. Apa yang bisa kau anggap lucu dari perasaan ini? Mengapa kau begitu mudah menjadikan perasaanku sebagai lelucon yang kau pikir dapat membuatku tertawa? Harus kularikan kemana cinta yang semakin dalam ini? Haruskah aku bilang padamu, dengan mata yang sembab, dengan rambut yang berantakan, dengan wajah yang begitu lelah, hanya untuk meminta mu kembali? tidak! . Pertanyaan tentang perasaanku telah terjawab, walau tak kau jawab secara langsung. Kau tak pernah punya perasaan sedalam yang kuberikan, kau tak merindukan sedalam yang sering kulakukan dan tak pernah meposisikan aku bner-benar dihatimu. Pernahkah kau merasakan menjadi sosok yang selalu dinomor sekian? yang tetap mencintai walau disakiti? yang tetap memberi perhatian walau diabaikan?
Mengapa kau menyuruhku dan membiarkan perasaanku begitu erat denganmu? bukankah dulu kau yang begitu ingin kita bersama? tapi sekarang aku tarsadar sebenarnya kau hanya bersandiwara berusaha untuk membohongi perasaanmu dan dirkiu, aku tak pernah benar-benar menjadi yang kau butuhkan, yang kau cemaskan, yang kau rindukan, dan yang kau harapkan untuk menjadi pelengkap hari-harimu,tetapi Wajah baruku bisa kaulihat sendiri, terlihat lebih baik dan lebih hangat daripada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah? Benarkah kita sudah saling melupakan? Jika memang ada kata "saling", tapi mengapa hatiku masih ingin terus mengikatmu? Dan, mengapa hingga saat ini kamu tak benar-benar menjauh? Kadang, jarak tak menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam serba ketidakjelasan, aku dan kamu masih saja menjalani... menjalani sesuatu yang tak tahu harus disebut apa. Tapi, katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali berdekatan. Terlalu tololkah jika kusebut belahan jiwa? Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam status, tapi jiwa kita, napas kita, kerinduan kita; miliki denyut dan detak yang sama.Terimakasih atas luka ini, terimakasih atas pedih dan air mata ini. terimakasih untuk tawa yang kau titipkan pada setiap candaanmu diujung malam. sekarang aku sadar, betapa kau adalah sosok yang pernah membuatku tertawa kencang adalah pria yang bisa membuatku menangis paling kencang dan sudah kubilang dari awal kan, "dulu" itu memang menyenangkan.
No comments:
Post a Comment